Pernah menganak sungai tangis itu di matamu, sering malah
Pernah pula peluhmu tak kering oleh sapu tangan biru itu, memandi sekujur tubuhmu
Kau lahap derita di selaksa hidupmu, berbaur perih mendera
Bukan tanpa letih pun tetap kau tapaki jalanan disana, tuk sesuap pelipur lapar setenggak pelepas dahaga
Wahai sang pemimpi, yang terus bermimpi menginjak daratan "Kota Legenda"
Terpatri senyum itu, apakah tanpa luka
Tulus merebak seolah tanpa duka
Terus terukir indah di wajah biasamu, sehingga kau berkata
"teruslah kau tersenyum, karena tersenyum tak habiskan kekuatanmu, karena tersenyum yang paling mudah kaulakukan dalam hidupku, hanya tersenyum yang tanpa lelah"
*Felidean Dhanika










[lebay ga yah - wekekeke].





